• June 21, 2022

Kemenangan Gustavo Petro di Kolombia, Presiden Kiri di Amerika Latin Bisakah Mengimbangi Amerika?

Kemenangan Gustavo Petro di Kolombia, Presiden Kiri di Amerika Latin Bisakah Mengimbangi Amerika?

Oleh: Pizaro Ghozali *

MEDIA24.ID, JAKARTA  — Gustavo Petro, 62 tahun, mantan gerilyawan, kini menjadi presiden berhaluan kiri pertama di Kolombia, sekaligus meneguhkan kemenangan partai-partai berideologi sosialis di Amerika Latin.

Kamerad Petro bergabung dengan politisi-politisi Marxis lain di Amerika Latin, termasuk Pedro Castillo, seorang guru yang berhasil menjadi Presiden Peru dan mahasiswa progresiff berusia 36 tahun Gabriel Boric yang memenangi Pilpres di Chili.

Baca juga: LSM HAM: Lebih dari 800 Masjid di Jerman Diserang Sejak 2014

Baca juga: Israel Ingin Ubah Masjid Al-Aqsa jadi Sinagog

Kemenangan sayap kiri di negeri-negeri latin sepertinya juga tidak akan cepat berhenti, setelah survei mengunggulkan Luiz Inácio Lula da Silva dibandingkan Bolsonero pada Pemilu di Brazil.

Selain nama-nama itu tentu ada senior mereka yaitu Nicholas Maduro yang sudah terlebih dahulu menjaga tradisi kemenangan partai kidal di Venezuela.

Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana konsolidasi kiri di Amerika Latin? Akankah mereka membentuk blok untuk menjadi penantang serius Washington?

Sinyalnya sedikit terlihat setelah Presiden Meksiko menarik diri KTT Amerika di Los Angles baru-baru ini. Langkah itu dilakukan Presiden Obrador setelah AS tidak mengundang Kuba, Nikaragua, dan Venezuela ke KTT.

BERITA LAINNYA  Gus Muhaimin dan Presiden Zelenskyy Bahas Kondisi Pengungsi Korban Perang di Ukraina

Keputusan ini langsung disambut Maduro sebagai sikap berani yang telah ditunjukkan Meksiko untuk melawan diskriminasi AS.

Tapi politik internasional itu tidak hitam putih. Dalam sejarahnya, AS memiliki sejarah hubungan yang mesra dengan beberapa presiden sayap kiri di Amerika Selatan, seperti José Mujica dari Uruguay dan dulu  Lula saat menjabat presiden di Brasil juga adem-adem saja dengan Washington.

Selain itu, sukses atau tidaknya konsolidasi kekuatan kaum kiri di Amerika Latin tergantung bagaimana keberhasilan mereka memulihkan problem ekonomi yang sudah berakar dan menjadi masalah kompleks di kawasan.

Untuk melihat gambaran kondisi ekonomi Amerika Latin, kira-kira seperti ini: PBB mengatakan kemiskinan Amerika Latin dan Republik Dominika akan meningkat menjadi 33% dari populasi tahun ini, naik 0,9 poin dibandingkan tahun 2021.

BERITA LAINNYA  Kaum Dhuafa Indonesia Peroleh Kiriman Kurma dari Arab Saudi, Alhamdullilah

Kemiskinan ekstrem mencapai 14,5% tahun ini, 0,7 poin lebih banyak daripada tahun 2021.

Perang Rusia-Ukraina memang memperburuk situasi di Amerika Latin.
Tapi perlu dicatat ekonomi kawasan sudah mengalami perlambatan pertumbuhan dan perdagangan tahun ini bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina, yang membuat pemulihan ekonomi berjalan sangat lambat di Amerika Latin.

Itu belum masalah-masalah lain yang tak kunjung selesai seperti pengangguran, korupsi, kekerasan, hingga kartel narkoba.

Pekerjaan rumah yang akan menentukan nasib Castillo, Boric, Petro dan konsolidasi di Amerika Latin. Kita lihat saja.

Profil Gustavo Petro

Mengutip Anadolu Agency, dengan hampir 99 persen suara yang telah dihitung, Petro meraih 50 persen suara berbanding 47 persen suara Rodolfo Hernandez, lawannya dalam Pilpres Kolombia.

BERITA LAINNYA  Bung Hatta, Putrinya dan Pemikirannya

Selama berbulan-bulan, Gustavo Petro berkeliling Kolombia, berkampanye dengan menentang kemiskinan, ketidaksetaraan dan kurangnya kesempatan untuk bekerja.

Petro, seorang legislator berusia 62 tahun, adalah anggota kelompok gerilya M-19, yang berjuang pada awal 1990-an.

Dia kemudian menjadi senator dan wali kota ibu kota Kolombia, Bogota. Dalam upaya ketiganya memenangkan pemilu presiden, Petro telah berjanji untuk mendistribusikan kembali sistem pensiun negara dan mengakhiri penambangan minyak.

Para pemilih menggantungkan harapan mereka pada Petro dan Francia Marquez, yang telah menjadi wakil presiden perempuan kulit hitam pertama di negara itu, untuk membawa perubahan.

“Hari ini adalah hari perayaan bagi rakyat. Biarkan mereka merayakan kemenangan pertama. Semoga banyak penderitaan hilang dalam kegembiraan yang hari ini membanjiri jantung negara kita,” cuit Petro di akun Twitter-nya.

*Pizaro Ghozali, Jurnalis, Pengamat HI Universitas Al-Azhar Indonesia

 

 

 

Related post

1 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.