• August 4, 2022

Indonesia: Garuda Super Shield, Bukan Ancaman bagi Siapapun

Indonesia: Garuda Super Shield, Bukan Ancaman bagi Siapapun

MEDIA24.ID, JAKARTA —  Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menegaskan latihan bersama Indonesia dan Amerika Serikat bernama ”Super Garuda Shield” dengan tambahan peserta dari Singapura, Jepang dan Australia, adalah latihan rutin yang tidak berhubungan dengan situasi politik dunia.

Tapi analis melihat, latihan besar-besaran dengan lebih dari 4.000 orang peserta ini adalah upaya Jenderal Andika memanfaatkan kekhawatiran Amerika Serikat soal berkembangnya pengaruh China di kawasan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan Indonesia.

Baca jugaMyanmar Perlu Disanksi, tapi Soliditas ASEAN Dipertaruhkan

Baca juga: Tambrauw, Surga Kecil Tersembunyi di Papua Barat

Menurut Jenderal Andika latihan ini bukan upaya untuk menangkal pengaruh China di kawasan, hanya latihan militer yang sudah rutin dilakukan.

“Ini latihan kan sudah ke-16 kali, kita selalu melakukan latihan ini apapun situasi yang terjadi, ini adalah suatu ketertarikan untuk negara-negara di wilayah sekitar kita ini untuk berlatih bersama. Sama sekali tidak ada pesan, apapun dan kepada siapapun,” ujar dia dalam konferensi pers seusai pembukaan latihan (Rabu 3/8/22).

Menurut Jenderal Andika latihan ini bisa ikut menciptakan perdamaian di kawasan, tapi bukan karena kekuatannya.

BERITA LAINNYA  Viral Almarhum Putra Ridwan Kamil Berjersey Persib, Netizen: A Eril Bobotoh Sejati

Perdamaian bisa tercipta karena ikatan yang kuat di antara kekuatan militer negara-negara kawasan.

Latihan bersama menurut Jenderal Andika bisa ikut berkontribusi untuk menciptakan perdamaian.

Perdamaian di kawasan menurut dia bukan hanya tercipta lewat kekuatan gabungan, namun karena ikatan kerjasama antarnegara.

“Dengan kita bekerja sama, sering bertemu, berlatih, itulah yang membuat kita lebih kuat, karena kebersamaan,” ujar dia.

Negara-negara di kawasan menurut Jenderal Andika bisa saling menjaga, bukan hanya jika ada kejahatan namun juga dalam penanganan bencana.

“Misalnya gempa bumi, tenggelamnya KRI Nanggala, itu langsung teman-teman  semua datang. Jadi kita bergaul seperti ini akan membantu, kekuatan kita,” ujar dia.

Sedangkan dalam soal alat utama sistem persenjataan atau alutsista, Indonesia ingin mengambil pengalaman dari negara lain untuk meningkatkan kemampuan personil TNI.

“Kita tidak tahu kapan (pengalaman dengan alutsiste itu terpakai), tapi pengalaman itu bikin kita makin bagus, ujar dia.

Menurut Jenderal Andika, latihan gabungan Super Garuda Shield total diikuti oleh 13 negara dengan beragaman partisipasi.  Ada negara yang berpartisipasi dengan mengirimkan kapal perang, seperti Indonesia, Singapura dan Amerika Serikat. Sedangkan Australia dan Jepang hanya mengirimkan pasukan.

BERITA LAINNYA  Hari Raya Iduladha 1443 H Bisa Beda, Simak Penjelasannya

“Indonesia bersikap pragmatis”

Analis militer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga think tank milik pemerintah, Muhammad Haripin mengatakan latihan gabungan ini menggambarkan upaya Indonesia melakukan diploimasi pertahanan dengan negara-negara besar di luar kawasan.

Selain itu hal ini juga menunjukkan kelihaian panglima TNI saat ini, Jenderal Andika Perkasa memanfaatkan kekhawatiran Washington soal menguatkan pengaruh China di kawasan.

“Selamat beberapa tahun terkahir Amerika cukup sering membantu negara-negara Asia melengkapi alutsista untuk menangkal pengaruh China.

“Indonesia ingin memanfaatkan kebijakan Washington dengan mendapatkan bantuan yang diberikan Amerika pada kawasan agar tidak terpengaruh China,” ujar dia.

Hal ini dilakukan karena sedang dalam upaya membangun kekuatan pertahanan namun terhalang dengan kemampuan produksi alutsista yang terbatas.

“Indonesia memerlukan banyak impor,  bantuan negara produsen senjata di luar kawasan,” ujar dia.

Sejauh ini menurut Haripin Indonesia bisa memberikan interaksi yang cukup adil pada negara-negara besar.

BERITA LAINNYA  Pendaftaran Uji Kompetensi Beasiswa Al Azhar Dibuka, Cek Syaratnya

“Kita punya kerja sama pertahanan dengan AS, tapi hubungan ekonomi kita erat dengan China,” ujar dia.

Pragmatisme dalam politik luar negeri sepert ini sangat menguntungkan sehingga Indonesia mempunyai posisi yang mandiri, bisa merangkau dua kekuatan ini dan berusaha membuat kawasan Asia Tenggara tidak menjadi ajang kompetisi.

Dalam konteks regional, kata Haripin, Indonesia ingin menujukkan bahwa sebagai negara besar pendiri ASEAN, juga memiliki kapabilitas militer yang mumpuni.

Indonesia juga sedang menunjukkan bahwa tidak ingin hanya dijadikan pion oleh raksasa dunia seperti Amerika maupun China, namun juga negara besar yang mandiri.

“Ingin memperlihatkan bahwa Indonesia bukan bidak catur, tapi sudah menjadi pemain besar yang memengaruhi bahkan menentukan perilaku negara besar,” ujar dia.

Analis internasional dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto mengatakan latihan militer bersama ini adalah salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan kemampuan personil militernya, bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan  negara lain.

“Sekaligus melihat, mempelajari dan mengoperasikan berbagai peralatan militer terbaru yang berasal dari militer AS,” ujar dia.
 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.