• May 28, 2022

Cerita Buya Syafii Ngonthel Datangi Gereja yang Dibom Teroris

Cerita Buya Syafii Ngonthel Datangi Gereja yang Dibom Teroris

MEDIA24.ID, JAKARTA – Pembelaan Buya Syafii Maarif pada kemanusiaan masyhur di Indonesia. Tak hanya mereka yang seiman, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu juga lantang membela nonmuslim yang menjadi korban kekerasan atas nama agama.

Salah satunya ketika Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Trihanggo, Sleman, DIY diserang tororis pada 2018 silam. Buya Syafii, yang sudah berusia 83 tahun, langsung datang ke lokasi dengan menggunakan sepeda onthel.

Kenangan ini disampaikan Imam Projo Keuskupan Agung Semarang sekaligus Pastor Kepala Paroki Kumetiran, Yohanes Dwi Harsanto Pr (Romo Santo) saat hadir menyaksikan prosesi salat jenazah terhadap almarhum Buya Syafi di Masjid Gede Kauman, Kota Yogyakarta, Jumat, 27 Mei 2022.

Baca juga: Buya Syafii Ingin Indonesia Bertahan Sehari Sebelum Kiamat

Ia datang melayat menyampaikan dukacita dari umat Katolik.

“Saya mewakili bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang Robertus Rubiyatmoko mengucapkan berduka pada keluarga Muhammadiyah dan keluarga almarhum atas dipanggilnya almarhum kepada rahmat Allah Yang Maha Kuasa, kami merasa sangat bersedih dan kehilangan,” tuturnya dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Sabtu, 28 Mei 2022.

BERITA LAINNYA  Irjen Ferdy Sambo Tersangka! Ini Kronologi Kasus dan Profilnya

Bagi Romo Santo, sapaan akrab Yohanes Dwi Harsanto, Buya Syafii adalah pendamai. Hatinya damai dan teduh, sehingga kata-kata yang terucap membuat umat minoritas tenteram. Tokoh bangsa kelahiran Minangkabau, 31 Mei 1935 itu juga teguh mengupayakan kedamaian dan kerukunan hidup bersama.

Buya Syafii Maarif juga dianggap sosok yang telah meraih keluhuran spiritual. Hal itu terbukti saat Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog diserang teroris pada 2018. Buya Syafii adalah tokoh pertama yang hadir di lokasi untuk menenangkan umat Katolik.

BERITA LAINNYA  Kemenag Umumkan Hasil Seleksi Administrasi Calon PPPK, Cek Namamu di Sini

Baca juga: UNAIR Punya Sistem Monitoring untuk Cegah Kecurangan UTBK SBMPTN

“Beliau mendahului saya, saya masih tugas di tempat lain. Beliau mendahului saya untuk datang dan beliau naik sepeda (kayuh) dan langsung memberi konferensi pers yang sudah datang saat itu bahwa ini teroris, kita jangan mau dipecah belah. Dan beliau juga mengungkapkan bahwa kita mesti komunikasi satu sama lain,” kata Romo Santo mengenang Buya Syafii.

Tak hanya itu, kata Romo Santo, saat terbaring lemah dalam perawatan di RS PKU Muhammadiyah, Buya Syafii juga masih sempat mengirimkan ucapan selamat Hari Raya Natal.

“Nilai-nilai yang beliau wariskan tentang perdamaian, keadilan, lantang menyuarakan kebatilan, dan lantang menyuarakan menuju yang benar, dan beliau sendiri tidak hanya bersuara tapi konkret melakukannya dengan badannya, dengan tangannya, dengan kakinya, sungguh-sungguh menyambangi para korban, menyambangi orang yang susah, orang yang sedang takut dan beliau menjadi pengayom. Kita lanjutkan cita-cita ini saling mengayomi satu sama lain,” kata Romo Santo.

BERITA LAINNYA  Pencurian Aglaonema Marak, Pedagang Rugi Ratusan Juta

Atas kepeergian Buya Syafii Romo Santo mengajak generasi muda Indonesia melanjutkan cita-cita perdamaian yang diperjuangkan oleh Bapak Bangsa tersebut.

“Kita berusaha satu sama lain dan bekerja sama melanjutkan cita-cita Buya Syafii Maarif, yaitu damai. Yang muda-muda khususnya melanjutkan cita-cita almarhum untuk berkomunikasi satu sama lain untuk membangun perdamaian, peradaban yang lebih baik di Indonesia ini,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.