• June 9, 2022

Cacingan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

Cacingan: Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya

MEDIA24.ID, JAKARTA – Cacingan tak asing bagi generasi yang lahir sebelum tahun 2000-an. Waktu itu banyak anak kecil mengalami penyakit cacingan yang umumnya ditandai dengan badan kurus dan kurang nafsu makan.

Cacingan juga dijadikan bahan ejekan ketika melihat seseorang yang lemah, letih, lesu ketika menjalani aktivitasnya.
“Kamu cacingan,”.

Baca jugaKemenag Rilis WA Center Haji, Catat Nomor Teleponnya

Lalu sebenarnya apa itu cacingan? Dan apakah di era Revolusi Industri 4.0 ini masih ada yang mengalami cacingan?

Anggota Tim Litbang Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara dr Titik Kusumawinakhyu Msi Med punya jawabannya.

Menurut dokter Titi, cacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit yang dapat hidup di dalam organ tubuh, utamanya usus. Bahasa lain dari cacingan adalah Ascariasis.

Baca jugaKeistimewaan Raudhah, Tempat Mustajab untuk Berdoa

Titik megungkapkan, dari data yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diperkirakan 807 juta-1,2 miliar orang di dunia terinfeksi Ascaris lumbricoides atau cacing gelang.

BERITA LAINNYA  Penyebab Mata Merah dan Cara Mencegahnya

Cacing ini termasuk golongan nematoda usus. Penyakitnya disebut Ascariasis. Ditularkan melalui tanah atau soil transmitted helminth.

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki tanah yang lembab. Ini adalah tempat yang disukai cacing.

Baca juga: Kapan KJP Juni 2022 untuk SD-SMA Cair Nih, Pak Anies?

Proses penularan dapat terjadi apabila telur Ascaris dikeluarkan melalui kotoran orang yang terinfeksi cacing tersebut.

Misalnya orang buang air besar sembarangan di kebun, sungai atau semak, maka telur cacing akan tersimpan di tanah.

“Jika tanah tersebut kemudian untuk menanam sayur mayur, dan orang memakan sayur itu tanpa dicuci bersih, maka telur cacing dapat masuk ke dalam tubuh. Inilah pentingnya mencuci sayur dan buah dengan air mengalir agar bersih ketika dikonsumsi,” katanya.

Baca jugaEkonomi Indonesia Paling Resilien di Tengah Perlambatan Global

Nah, apabila telur tertelan, maka menetas berubah menjadi larva rhabditiform.

BERITA LAINNYA  Simak! Ini Jenis-jenis Kanker dan Cara Mendeteksinya

Larva tersebut berkembang di usus, dan dapat menembus dinding usus kemudian bergerak ke pembuluh darah vena juga menyebar ke pembuluh limfe, masuk ke sistem sirkulasi darah, ke jantung, dan akhirnya menuju paru-paru.

Larva ini dapat terus masuk ke dinding bagian paru yaitu ke alveoli, bergerak menuju rongga alveoli, sampai akhirnya ke bronkhus dan sampai glottis.

Baca jugaRupiah Melemah Hadapi Ekspektasi Suku Bunga The Fed

Dari glottis kemudian masuk ke esofagus, selanjutnya berkembang menjadi cacing dewasa di usus selama 12 sampai 18 bulan.

Hal ini sangat merugikan karena nutrisi di usus akan diambil oleh cacing tersebut.

Gejala cacingan yang ditimbulkan dapat bermacam-macam, seperti ruam gatal di kulit, keluarnya cacing saat buang air besar, badan lemas, pada anak seperti terdapat tanda kurang nutrisi yaitu perut buncit dan badan kurus.

Terkadang batuk juga dapat disebabkan oleh cacingan. Selain itu, juga dapat menimbulkan keluhan gatal pada mata.

BERITA LAINNYA  Mengenal Obat Paracetamol, Cara Pakai dan Kegunaannya

Bagaimana cara mencegah cacingan tersebut? Hal yang tepat adalah perilaku hidup bersih dan sehat. Memakai alas kaki, tidak buang air besar sembarangan, mencuci sayur dan buah dengan bersih, mencuci tangan dan kaki, mengonsumsi air bersih dan memasak dengan benar.

Minumlah tablet obat cacing secara teratur minimal disarankan satu kali dalam setahun atau dua kali dalam satu tahun.

“Jangan sepelekan, gejala berat dari cacingan ini dapat menimbulkan anemia, apabila didapati pucat, lemas, tidak bisa buang air besar, dan diare sebaiknya konsultasikan segera ke dokter,” katanya.

“Cacingan jarang menyebabkan kematian. Waspada apabila perut sakit, tidak kentut dan ada tanda-tanda terkena cacingan sebelumnya, cacingan dapat menyebabkan sumbatan di usus, sehingga dapat menyebabkan kegawatan pada sistem saluran cerna karena usus tersumbat oleh gumpalan cacing yang sangat banyak, sehingga usus tidak dapat bergerak yang disebut ileus,” katanya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published.