• September 5, 2022

Asal Usul Aksara Bali dan Jenis-jenisnya

Asal Usul Aksara Bali dan Jenis-jenisnya

Pernahkah melihat bentuk aksara Bali? Ya, aksara Bali adalah tanda atau lambang yang digunakan oleh orang Bali untuk menuliskan bahasa Bali. Meski dalam perkembangannya kemudian bahasa Bali juga bisa ditulis dengan aksara Latin.

Sejak Oktober 2018 aksara ini wajib dipakai di kantor pemerintah dan swasta di seluruh Provinsi di Pulau Dewata. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Gubernur tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Pencantuman aksara Bali ini diletakkan di atas huruf latin.

Baca juga: Begini Alasan Mesir Bisa Akhiri Zaman Praaksara Tahun 3000 SM

Baca juga: 7 Hal yang Harus Dicermati Saat Renovasi Rumah

Menurut sejumlah studi aksara Bali nyaris serupa dengan aksara Jawa. Perbedaan terdapat pada bentuknya. Kalau Hanacaraka atau aksara Jawa berbentuk segi empat, aksara yang dipakai di Pulau Dewata ini kebulat-bulatan.

Mengapa keduanya hampir mirip? Ternyata tak lepas dari sejarah asal-usul keduanya.

Asal usul aksara Bali dan Jawa tidak dapat dilepaskan dari perkembangan aksara di negara India. Pasalnya agama Hindu dan agama Budha serta bahasa dengan aksaranya sampai bersama-sama ke Indonesia maupun ke Bali.

Aksara ini dibawa oleh orang-orang India yang juga penganut agama Hindu ke wilayah Nusantara melalui beragam cara seperti perluasan koloni, perdagangan, agama serta kebudayaan.

BERITA LAINNYA  KJP Plus Juni 2022 Disebut Cair, Bagaimana Faktanya?

Peradaban India memiliki aksara Karosthi yang merupakan aksara tertua. Karosthi lantas berkembang menjadi aksara Brahmi. Brahmi ini kemudian berkembang jadi aksara Dewanegari dan aksara Pallawa.

Masyarakat di India bagian Utara menggunakan aksara Dewanegari untuk menulis bahasa Sansekerta. Penggunaannya menyebar di Kashmir, Magadha, dan wilayah lainnya.

Adapun aksara Pallawa dipakai di India bagian selatan, dalam bahasa Pallawa. Penggunaannya seperti di Madras, Benggala, Kolkata, serta daerah lainnya.

Kedua aksara tersebut juga masuk ke Nusantara melalui hubungan antara Kerajaan Cola dan Sriwijaya. Seiring perkembangan agama Hindu dan Budha, aksara Dewanegari dan aksara Pallawa juga menanamkan pengaruh yang kuat pada peradaban di Nusantara.

Lambat laun kedua aksara tersebut beradaptasi dengan kebudayaan Nusantara membentuk aksara Indonesia kuno yang dikenal dengan aksara Kawi. Dari aksara Kawi yang mengalami perkembangan kemudian lahir aksara Bali dan aksara Jawa.

Persamaan kedua aksara India dengan aksara yang ada di Pulau Dewata adalah sama-sama dimulai dari bagian kiri ke arah bagian kanan dan ditulis di bawah garis.

Aksara paling tua di Bali ditemukan di Pura Penataran Sasih, Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Di pura tersebut terdapat stupa-stupa yang memiliki sejumlah cap terrbuat dari tanah liat yang berisikan tatahan aksara mantra-mantra.

BERITA LAINNYA  Dana KJP Plus Juni 2022 Cair di Bank DKI, Siswa Jangan Lakukan hal Ini

Adapun pada tugu batu di pura Blanjong Sanur ditemukan aksara Dewanegari dan aksara Bali. Selanjutnya aksara Bali yang berasal dari gubahan-gubahan aksara Pallawa terus berkembang dengan bukti ditemukannya tugu-tugu di berbagai pura.

Aksara Bali Berdasarkan Fungsinya

Selain untuk dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari, aksara yang dipakai di Pulau Dewata ini juga digunakan untuk menuliskan rerajahan. Hal ini berkaitan dengan upacara keagamaan. Kemudian ada juga yang berkaitan dengan kekuatan magis.

Guru Besar dalam ilmu Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus beberapa waktu lalu mengungkapkan berdasarkan fungsinya aksara yang digunakan di Pulau Dewata digolongkan menjadi dua yaitu aksara biasa dan aksara suci.

Aksara biasa dipakai menuliskan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari termasuk pembuatan karya sastra. Aksara biasa ini terbagi dua yaitu aksara Wreastra dan aksara Swalelita.

Adapun aksara suci juga dapat dibagi dua, yaitu aksara Wijaksara dan aksara Modre. Aksara Wijaksara adalah aksara yang biasa digunakan untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan.

Sedangkan aksara Modre adalah aksara yang digunakan untuk menulis kebatinan yang pada umumnya bersifat magis.

1. Aksara Wreastra

Aksara Wreastra terdiri atas 18 buah aksara yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya. Ke 18 aksara tersebut merupakan konsonan

BERITA LAINNYA  Begini Cara Terapkan Meaningful Learning pada Anak Sejak Dini

2. Aksara Swalelita

Aksara Swalelita jumlahnya 47 buah aksara yang terdiri atas aksara suara 14 buah dan aksara konsonan 33 buah.

3. Aksara Wijaksara

Aksara Wijaksara terdiri atas Ongkara, Rwa bhineda, Triaksara, Pancaksara, Panca Brahma, Desaksara, Caturdasaksara, Sodasaksara

4. Aksara Modre

Aksara Modre adalah aksara yang sulit dibaca karena mendapat berbagai pengangge aksara. Di samping itu aksara Modre ada juga dilambangkan dengan gambar-gambar tertentu.

Aksara ini punya peranan penting dalam melakukan praktik ilmu magis antara lain sebagai jimat, penjagaan diri, penolak kejahatan, penyembuh penyakit, sarana mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.

Aksara Bali Berdasarkan Bentuknya

Berdasarkan kesamaan-kesamaan bentuknya, aksara Bali dapat dibagi tiga yaitu bentuk pangawak, bentuk turunan, dan bentuk lambang-lambang.

1. Aksara Bentuk Pangawak

Aksara bentuk pangawak dapat juga disebut aksara bentuk dasar. Aksara ini adalah aksara-aksara yang menjadi dasar dalam setiap menulis dengan aksara Bali .

2. Aksara Bentuk Turunan
Berasal dari aksara bentuk pangawak yang bentuknya diturunkan atau diubah menjadi bentuk gantungan menjadi bentuk gempelan dan juga menjadi bentuk pangangge.

3. Aksara Bentuk Lambang-lambang
Maksudnya adalah aksara yang digunakan sebagai tanda-tanda atau lambang-lambang seperti lambang bilangan, lambang/tanda baca.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.