• September 19, 2022

Anak Muda Minta Minuman Berpemanis DiKenai Cukai, Apa Sih Bahayanya?

Anak Muda Minta Minuman Berpemanis DiKenai Cukai, Apa Sih Bahayanya?

MEDIA24.ID, JAKARTA – Sekumpulan anak muda meminta pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), apa bahaya minuman itu bagi kesehatan?

Direktur Kebijakan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Olivia Herlinda mengatakan saat ini belum ada regulasi terkait iklan, promosi, dan sponsor MBDK.

“Ini membuat pemasaran MBDK selalu dikemas sangat menarik bagi anak-anak muda. Akibatnya, jumlah konsumen terus meningkat dan menciptakan kesan MBDK adalah produk yang normal dan baik-baik saja,” ujar dia dalam siaran pers.

Banyak anak muda di Indonesia yang belum jumlah ideal konsumsi gula setiap hari.

Di sisi lain, riset CISDI menemukan bahwa anak-anak di Indonesia terpapar promosi iklan minuman tidak sehat di televisi, mayoritas MBDK, setidaknya setiap 4 menit sekali.

Temuan lain menyebut 1 dari 10 anak Indonesia (14,7%) mengkonsumsi satu jenis MBDK, minuman berkarbonasi (soft drinks) sebanyak satu hingga enam kali per minggunya.

BERITA LAINNYA  Ini Tips Pilih Hewan Qurban di Tengah Wabah PMK, Virus Bisa Bertahan 3 Bulan Lho

Sedangkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukkan bahwa penyakit diabetes melitus pada kelompok umur 15-24 tahun tetap di angka 0,1% pada 2013 dan 2018.

“Konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan adalah salah satu faktor risiko yang meningkatkan prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia, termasuk terhadap anak-anak muda,” tutur Olivia kembali.

”Penduduk Indonesia mengkonsumsi asupan gula yang lebih tinggi dari anjuran yang diharuskan yaitu 4 sdm sehari. Masyarakat kita belum menuruti anjuran ini. Beban Penyakit Tidak Menular juga semakin tinggi (jantung, Dm, stroke) dan membebani pemerintah hingga 7 triliun,’ kata  Eva Susanti, Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan.

BERITA LAINNYA  6 Peluang Bisnis Sampingan yang Menguntungkan Bagi Milenial

Pengenaan cukai produk MBDK sebesar 20 persen ini dinilai akan cukup menghambat konsumsi berlebihan pada anak-anak. Dalam konteks hukum, instrumen cukai berbicara untuk memberikan pembatasan dan perlindungan.

Dukungan publik terhadap upaya pengenaan cukai sebenarnya sangat kuat.

Survei daring CISDI terhadap 2.605 responden menemukan setidaknya 78% responden merasa minuman berpemanis memenuhi kriteria barang kena cukai.

Riset yang sama menunjukan 80% responden atau setara 8 dari 10 orang sepenuhnya mendukung rencana pemerintah untuk mengenakan cukai pada setiap produk MBDK.

BERITA LAINNYA  Kapan BSU 2022 Cair? Cek dengan Login di kemnaker.go.id

Sementara, 85% responden mengaku akan mengurangi konsumsi MBDK jika pengenaan cukai mencapai 20%.

“Kehadiran data ini seharusnya memberikan dukungan bagi pemerintah untuk segera menerapkan cukai,” ungkap Olivia kembali.

Anggapan cukai MBDK mengganggu pemulihan ekonomi, berdampak pada kenaikan harga bahan pokok, serta tidak efektif mengurangi konsumsi pun tidak tepat.

Bahkan, dana yang terkumpul dari pengenaan cukai juga dapat bermanfaat bagi sektor-sektor lain, seperti untuk menambah pembiayaan upaya promosi kesehatan di Indonesia.

 

 

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published.